“Kembalinya Aku Kepada-Mu”
Aku yang pernah singgah dalam rahim ibu,
pergi meninggalkan tanpa mengingat apapun,
yang terlahir dengan tangisan, dan tangan terkepal membawa perjanjian “Antara Aku & Tuhan-Ku”
pergi meninggalkan tanpa mengingat apapun,
yang terlahir dengan tangisan, dan tangan terkepal membawa perjanjian “Antara Aku & Tuhan-Ku”
Terdengar suara adzan di sebelah kanan ku, dan suara iqomat di sebelah kiri ku.
Menjalani kehidupan dunia yang terasa amat berat,
akan tetapi harus tetap aku jalani.
akan tetapi harus tetap aku jalani.
Seorang ibu yang tak pernah lelah mengingatkan ku
untuk tetap bersujud kepada-Mu.
untuk tetap membaca ayat suci Al-Qur’an-Mu,
untuk tetap menyedekahkan sebagian harta ku,
agar kehidupan akhirat ku tak akan pernah sia-sia.
untuk tetap bersujud kepada-Mu.
untuk tetap membaca ayat suci Al-Qur’an-Mu,
untuk tetap menyedekahkan sebagian harta ku,
agar kehidupan akhirat ku tak akan pernah sia-sia.
Tapi kenyataanpun berkata tidak…
ekspektasi seorang ibu kepada anaknya tak sesuai yang beliau harapkan.
ekspektasi seorang ibu kepada anaknya tak sesuai yang beliau harapkan.
Lima waktu yang tak pernah terjaga, seringkali
menunda-nunda, tak pernah tepat waktu untuk melaksanakannya,
tak pernah menyedekahkan sebagian hartanya,
jarang sekali membuka ataupun membaca,
bahkan tak sekalipun menyentuh Al-Qur’an-Mu.
tak pernah menyedekahkan sebagian hartanya,
jarang sekali membuka ataupun membaca,
bahkan tak sekalipun menyentuh Al-Qur’an-Mu.
Aku yang ingin hidup bahagia di akhirat, itu hanyalah
sebuah kalimat klise yang sering kali aku ucapkan, tapi tak pernah taat untuk
menjalankan kehidupan di akhirat.
Ketika malaikat maut menjemputku, aku tak dapat
bernegosiasi lagi untuk menunda ajalku.
Terlahir dengan menangis, dan kembalipun dengan
menangis.
semua menangisi kepergianku, akupun menangisi kepergian diriku,
dengan penuh kebimbangan dan keraguan untuk bertemu menghadap-Mu.
Apakah tabungan akhiratku sudah cukup untuk kembali kepada-Mu ??
semua menangisi kepergianku, akupun menangisi kepergian diriku,
dengan penuh kebimbangan dan keraguan untuk bertemu menghadap-Mu.
Apakah tabungan akhiratku sudah cukup untuk kembali kepada-Mu ??
Terlahir dengan membawa perjanjian-Mu,
tapi aku mengingkari perjanjian itu ketika aku terlahir ke alam semesta-Mu.
tapi aku mengingkari perjanjian itu ketika aku terlahir ke alam semesta-Mu.
Aku malu wahai Tuhan-Ku aku sungguh malu untuk
menghadap-Mu…
Terlahir dengan sambutan suara adzan, dan kembalipun
dengan penutup suara adzan untuk melepas kepergian ku, mereka yang
mengantarkanku kini telah pergi meninggalkanku sendiri.
Tujuh hari dalam kuburku, itu adalah massa-massa tenang, terang akan cahaya,
atas kiriman doa-doa untukku.
Kini malaikat Munkar & Nakir mendatangaiku untuk
bertanya kepadaku…
Man Rabbuka, Siapakah Tuhanmu ??
Man Nabiyyuka, Siapakah Nabimu ??
Man Dinuka, Apa Agamamu ??
Man Imamuka, Siapa Imammu ??
Aina Qiblatuka, Di mana Kiblatmu ??
Man Ikhwanuka, Siapa Saudaramu ??
Pertanyaan sederhana itu, hanya bisa aku jawab ketika
aku masih bernafas di dunia.
kini aku terdiam dengan pertanyaan itu…
kini aku terdiam dengan pertanyaan itu…
Aku malu wahai Tuhan-Ku aku sungguh malu kepada-Mu.
Ketika aku di dunia…
Mengakui Engkau Allahu Rabbi adalah Tuhan-Ku, tapi aku tak pernah menyebut nama-Mu dan berdzikir kepada-Mu.
Mengakui Muhammad nabiku, tapi aku tak pernah mengikuti ajarannya dan bersholawat kepadanya.
Mengakui islam agamaku, tapi aku tak pernah mempelajari islam untuk mengamalkannya.
Mengakui Al-Qur’an adalah imamku, tapi aku tak pernah menyentuh ataupun membacanya sedikitpun.
Mengakui Ka’bah adalah Qiblatku, tapi aku tak pernah bersujud menghadap Qiblatku.
Mengakui muslimin dan muslimah adalah saudaraku, tapi aku tak pernah berhubungan dengan baik dan seringkali berseteru dengan mereka.
Mengakui Engkau Allahu Rabbi adalah Tuhan-Ku, tapi aku tak pernah menyebut nama-Mu dan berdzikir kepada-Mu.
Mengakui Muhammad nabiku, tapi aku tak pernah mengikuti ajarannya dan bersholawat kepadanya.
Mengakui islam agamaku, tapi aku tak pernah mempelajari islam untuk mengamalkannya.
Mengakui Al-Qur’an adalah imamku, tapi aku tak pernah menyentuh ataupun membacanya sedikitpun.
Mengakui Ka’bah adalah Qiblatku, tapi aku tak pernah bersujud menghadap Qiblatku.
Mengakui muslimin dan muslimah adalah saudaraku, tapi aku tak pernah berhubungan dengan baik dan seringkali berseteru dengan mereka.
Aku malu wahai Tuhan-Ku aku sungguh malu kepada-Mu.
Andaikan Engkau mengijinkanku untuk kembali ke dunia,
maka akan aku perbaiki semuanya Wahai Tuhan-Ku..
Aku hanya memohon kepada-Mu,
maafkanlah aku Wahai Tuhan-Ku,
terimalah segala amal baikku,
dan berilah sedikit cahaya-Mu untuk menerangi alam kuburku.
maafkanlah aku Wahai Tuhan-Ku,
terimalah segala amal baikku,
dan berilah sedikit cahaya-Mu untuk menerangi alam kuburku.
Yusup Firdaus
Banten, 17 September 2019|03:51
Banten, 17 September 2019|03:51
No comments:
Post a Comment